Arogansi dan Kekerasan : Cermin Masyarakat

GambarMasih segar dalam ingatan ulah geng motor di Jakarta Utara belum lama ini yang melibatkan oknum TNI, disusul bentrok antara TNI dan Polri di Gorontalo menyebabkan tewasnya seorang personil TNI, dan terakhir ulah oknum TNI berpangkat Kapten meletuskan senjatanya di depan pengendara sepeda motor yang menyenggol mobil dinas yang dikendarainya. Dan masih banyak tindakan-tindakan oknum aparat yang menunjukkan adanya arogansi kesatuan.

Namun menurut pendapat para pakar dan akademisi, arogansi oknum aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, yang marak kita saksikan akhir-akhir ini, adalah merupakan cermin kondisi masyarakat Indonesia. Arogansi aparat keamanan di lapangan pada dasarnya hanya refleksi dari karakter masyarakat secara umum. Masyarakat kita seolah sudah terbiasa dengan kekerasan, kita bisa saksikan ketika ada aksi unjuk rasa, masyarakat cenderung untuk berbuat anarkhis dan merusak fasilitas umum. Ketika memergoki pelaku kejahatan, dihakimi secara beramai-ramai, bukannya menyerahkan kepada aparat yang berwenang. Mahasiswa yang notabene adalah kalangan intelektual juga kadangkala melakukan aksi tawuran di kampus mereka. Bahkan di gedung wakil rakyat yang terhormat pun sering mempertontonkan adegan kekerasan seperti kata-kata kasar, baku hantam, hingga banting meja. Artinya bahwa aksi kekerasan tidaklah didominasi oleh satu kalangan saja, tapi semua eleman bangsa ini sebenarnya akrab dengan tindakan kekerasan dan arogansi. Sehingga tidaklah bijaksana jika kita beranggapan bahwa tindakan arogansi hanya dilakukan oleh aparat TNI/Polri. Problem kultur bangsa Indonesia saat ini adalah arogansi sudah menjadi hal yang lumrah. Masyarakat, baik di level elite, menengah, maupun bawah, cenderung bertindak arogan meski bentuknya berbeda-beda.

Menurut sosiolog dari UI, Tamrin Amal Tomagola, kondisi tersebut dipicu oleh situasi saat ini dimana masyarakat merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan frustasi atas keadaan yang serba tidak pasti. Di satu sisi negara cenderung toleran terhadap sikap arogan berupa kekerasan dan tindakan melanggar hukum. Tindakan itu dianggap hal yang biasa. Negara sebagai penyelenggara pemerintahan dianggap lemah dan tidak berdaya. Demokrasi dikuasai elite politik untuk kepentingan pribadi. Hukum justru mempertontonkan ketidakadilan. Kekuasaan dan modal bisa membeli hukum. Ekonomi dimonopoli oleh pemilik modal besar. Sementara Negara dinilai gagal memenuhi tanggung jawabnya kepada rakyat, tak mampu memberikan kenyamanan, keadilan, keamanan, dan kesejahteraan, sehingga masyarakat kerasakan stress dan memicu depresi sosial.

Depresi sosial tersebut dapat dilihat dari tindakan kekerasan yang mudah meletup dan perilaku sekelompok masyarakat yang cenderung agresif, hanya dipicu oleh hal-hal sepele. Hal tersebut diakibatkan karena masyarakat tidak yakin bahwa masalah yang dihadapi bisa diselesaikan oleh hukum secara adil, akhirnya mereka memilih jalan pintas dan main hakim sendiri. Depresi sosial itu kian menjadi-jadi karena media terutama televisi, seringkali menyiarkan kekerasan secara berlebihan dan ditonton oleh masyarakat di seluruh pelosok negeri. Sementara lembaga atau tokoh yang diharapkan memberikan teladan justru menjadi bagian dari masalah.

Kondisi seperti ini bisa disebut sebagai distrust society alias masyarakat yang kehilangan kepercayaan. Akibatnya naluri-naluri merusak dan kemarahan terpendam dilampiaskan di ruang publik. Ruang publik kehilangan moral, maka berlakulah hukum rimba.

Depresi sosial dan distrust society tersebut harus diantisipasi sedini mungkin. Negara harus mampu memenuhi tanggung jawabnya menjalankan pemerintahan dengan baik (good goverment). Penegakan hukum harus berjalan adil, demokrasi yang membela kepentingan rakyat serta perbaikan moralitas dan kearifan. Negara harus kuat dan tidak boleh kalah oleh kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s