Kapolri Dukung Bareskrim Usut Dugaan Korupsi Jajaran Polri

http://news.detik.com/read/2013/11/14/115746/2412842/10/kapolri-dukung-bareskrim-usut-dugaan-korupsi-jajaran-polri

Sebenarnya kalau kita (baca : Polri) mau jujur, tidaklah terlalu sulit memberantas praktik korupsi di institusi Polri. Kunci utamanya adalah keteladanan dari pucuk pemimpin Polri dan semua pemimpin (perwira) di semua level. Yang kedua adalah perombakan sistem yang korup. Karena sistem yang ada di Polri saat ini sangat rentan terhadap praktik KKN. Mulai dari sistem rekruitmen, penempatan, mutasi, kenaikan pangkat, promosi jabatan, seleksi pendidikan, sampai pada pelayanan publik dan penyidikan semuanya rentan terjadi korupsi. Praktik tersebut ibarat (maaf) kentut yang tidak berwujud tapi baunya tercium. Para pemimpin Polri bukannya tidak mengetahui hal ini, namun seakan tidak berdaya membersihkannya karena hampir semua pemimpin Polri sudah tersandera dan pernah terlibat di dalamnya. Jadi bagaimana mungkin mengungkap sebuah skandal yang ujung-ujungnya akan menyeret diri sendiri, hanya orang tolol yang mau melakukannya.

Wishtle blower yang belakangan didengung-dengungkan sebagai upaya melindungi mereka yang berani bersuara dan membongkar kebusukan di internalnya juga belum memiliki payung hukum yang jelas, sehingga sulit dalam implementasinya. Maka tidak heran jika tidak ada yang berani membongkarnya, meskipun praktik itu begitu gamblang terjadi di depan matanya. Dan sudah banyak contoh ketika seseorang bersedia menjadi wishtle blower, malahan dia yang jadi pesakitan. Dengan kondisi seperti itu, maka banyak yang memilih diam dan cari ‘aman’.

Pernah ada gagasan di internal Polri bahwa untuk memutus kultur Polri yang korup, maka perlu adanya suatu pemotongan generasi. Artinya generasi yang korup saat ini, harus dipangkas dan diganti dengan generasi yang bebas dari KKN. Kelihatannya gagasan yang cerdas dan brilyan, namun dalam praktiknya sangat-sangat sulit kalau tidak mau dibilang mustahil. Bagaimana caranya memisahkan antara dua generasi tersebut? Apakah kita harus membentuk suatu korps kepolisian yang baru yang dalam pelaksanaan tugasnya sama sekali terpisah dan tidak terkontaminasi dengan generasi sebelumnya? Rasanya tidak mungkin.

Lalu apa solusinya ? Kembali ke pembicaraan awal bahwa kunci utamanya adalah keteladanan dari para pemimpin kemudian tekad bersama untuk mau berubah. Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal-hal yang paling kecil. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi ? (bukan iklan kampanye ya!). Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s