DK PERADI Minta Pengacara Wa Ode Jelaskan Aliran Dana

Salah seorang pengacara Wa Ode mengaku aliran dana terkait pinjam meminjam, bukan honorarium advokat.

Dua pengacara Wa Ode Nurhayati, Arbab Paproeka dan Wa Ode Nur Zainab disebut menerima aliran dana ratusan juta rupiah. Dana itu berasal dari rekening Wa Ode Nurhayati yang merupakan terdakwa kasus korupsi dan pencucian uang Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) Tahun Anggaran 2011.

Dalam surat dakwaan, Wa Ode disebut menerima uang dari tiga pengusaha terkait penentuan Kabupaten Aceh Besar, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Kabupaten Minahasa sebagai penerima DPID. Sementara, Arbab dan Nur Zainab masing-masing menerima aliran dana sebesar Rp100 juta pada 3 Mei 2011 dan Rp150 juta pada 25 September 2010.

Penuntut umum menyebut kedua pengacara Wa Ode menerima transfer uang yang diduga berasal dari tindak pidana. Wa Ode menerima beberapa kali transaksi uang dengan jumlah Rp50,5 miliar dalam kurun waktu Oktober 2010 sampai September 2011. Jumlah ini di luar pendapatan Wa Ode sebagai anggota DPR.

Arbab tercatat sebagai mantan Anggota DPR periode 2004-2009, sedangkan Nur Zainab masih satu keluarga dengan Wa Ode. Apabila melihat rumusan Pasal 5 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), keduanya mungkin saja dikenakan TPPU.
Pasal 5 ayat (1) UU No.8 Tahun 2010
Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Tekait aliran dana itu, Ketua Dewan Kehormatan PERADI Leonard Simorangkir mempertanyakan apakah uang itu terkait pembayaran jasa advokat atau tidak? “Advokat yang menerima uang atau transfer dari kliennya tidak dapat dianggap melakukan TPPU, asalkan sebagai pembayaran fee atau biaya advokat,” katanya kepada hukumonline, Kamis (14/6).

Leonard melanjutkan, pembayaran fee tentu dilakukan dalam jumlah yang wajar dan transparan. Dalam hal jumlah pembayaran sangat besar dan fantastis, advokat patut mempertanyakan, walaupun tidak ada ketentuan yang mengatur besaran fee advokat. Selain itu, advokat harus menjelaskan aliran dana itu.

Namun, jika ternyata transfer uang itu adalah fee advokat yang dikirimkan dalam jumlah yang wajar dan transparan, uang tersebut harus dianggap berasal dari sumber yang halal. “Pasal 16 UU Advokat, asalkan advokat menjalankan profesi dengan iktikad baik, tidak dapat dituntut baik perdata atau pidana,” ujar Leonard.

Pendapat Leonard berbeda dengan pengamat hukum pidana, Gandjar L Bondan. Menurut Gandjar, Pasal 5 UU TPPU melarang setiap orang menerima atau menguasai penempatan, berdasarkan hubungan transaksi apapun harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga sebagai hasil tindak pidana.

Dengan demikian, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini berpendapat jasa pengacara termasuk sebagai salah satu bentuk “menerima” atau “menguasai”. Gandjar mengatakan bila kliennya adalah pengusaha dan berpotensi memiliki kekayaan yang besar, seorang advokat dapat menafsirkan uang jasa pengacaranya berasal dari pendapatan sang klien.

“Tapi bila kliennya adalah seorang pegawai negeri, dia patut menduga harta kliennya berasal dari tindak pidana.‎Bila dia tetap berkeinginan membela sang klien, mestinya dia menerima pembayaran dalam jumlah yang wajar berdasarkan kepatutan besarnya kekayaan si pegawai negeri,” jelas Gandjar.

Terpisah, Wa Ode Nur Zainab membantah uang yang ditransfer Wa Ode sebagai fee advokat. Uang itu adalah pinjaman Nur Zainab dari Wa Ode dalam konteks sebagai keluarga. Kejadian pinjam-meminjam itu juga terjadi pada tahun 2010. Saat menerima pinjaman uang, Nur Zainab memang tak menanyakan asal-usul uang.

“Sekarang begini saja. Mana ada sih orang yang ketika mendapat pinjaman uang, ditanyakan dulu apakah duitnya halal atau tidak? Yang ada nanti malah tidak jadi dikasih pinjam,” tuturnya. Kalaupun sumber pinjaman uang itu dianggap sebagai  hasil tindak kejahatan, Nur Zainab merasa heran mengapa dia tak diperiksa KPK sejak awal.

Nur Zainab mengaku, sejak awal, dirinya mendampingi pemeriksaan Wa Ode di KPK. Dia mempertanyakan, kenapa namanya mucul tiba-tiba dalam surat dakwaan penuntut umum, padahal dia tidak pernah dimintai keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus Wa Ode.

Terkait pernyataan Leonard yang meminta avokat menjelaskan fee yang dikirim dalam jumlah tidak wajar dan transparan, Nur Zainab malah balik bertanya. “Apakah ada kewajiban dalam UU Advokat atau Kode Etik yang mengharuskan advokat menanyakan asal-usul uang honorarium”.

Lebih jauh, Zainab mengaku tidak akan mempersoalkan penuntut umum KPK yang memasukkan namanya ke dalam surat dakwaan. Menurutnya, boleh jadi ini karena ketidakpahaman KPK menangani perkara pencucian uang. “Dan berdasarkan hukum acara, penuntut umum harus membuktikan apa yang sudah didakwakan,” tukasnya.

Untuk diketahui, selain dua pengacaranya, Wa Ode juga diketahui menerima uang dari tiga pengusaha terkait DPID tahun 2011. Ketiga pengusaha tersebut adalah, Fahd El Fouz -lebih dikenal sebagai Fahd A Rafiq- sebesar Rp5,5 miliar, Saul Paulus David Nelwan sebesar Rp350 juta, serta Abram Noach Mambu senilai Rp400 juta.

Uang dari Fahd tersebut dialirkan melalui seseorang bernama Haris Surahman. Atas perbuatannya, Wa Ode didakwa Pasal 12 huruf a atau b, Pasal 5 ayat (2), Pasal 11 UU Tipikor. Selain itu, anggota Banggar DPR ini dikenakan Pasal 3 dan Pasal 4 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sumber : http://www.hukumonline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s