Kerbau Dalam Tradisi Masyarakat Toraja

I. Pendahuluan

Kerbau (Bos bubalus) adalah binatang paling penting bagi orang Toraja, salah satu etnis yang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Bagi etnis Toraja, khususnya Toraja Sa’dan, kerbau adalah binatang yang paling penting dalam kehidupan sosial mereka. Kerbau atau dalam bahasa setempat tedong atau karembau tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat (Nooy-Palm, 2003). Selain sebagai hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup sosial, ritual maupun kepercayaan tradisional, kerbau juga menjadi alat takaran status sosial, serta transaksi. Dari sisi sosial, kerbau merupakan harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya (Issudarsono 1976). Tidak mengherankan bila orang Toraja sangat lekat dengan kerbau mereka. Hal ini dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, pada saat hendak bertransaksi, mengadakan pesta, atau dalam praktek keagamaan. Setelah kerbau, babi dan ayam menempati urutan berikutnya. Di Indonesia, hal semacam ini juga ditemukan pada masyarakat Madura. Orang Madura sangat dekat dengan sapi mereka; yang berperan dalam lomba dan adu sapi. Kerbau adalah satu binatang khas asli Asia, dan menjadi salah satu binatang penting dalam kebudayaan suku-suku di Asia. Di seluruh Asia Tenggara misalnya, kerbau yang lamban sangat diandalkan sebagai hewan penghela, terutama digunakan membajak dan mengangkut hasil bumi (Reid 1992). Di banyak tempat di Asia, kerbau seperti halnya gajah dan kuda juga berperan penting dalam usaha tani. Selain menjadi hewan penghela, kerbau juga menjadi daging konsumsi yang umum selain babi dan ayam. Walaupun yang lebih kuat ada di mana-mana, tetapi tingkat reproduksinya yang lambat (satu atau lebih anak dalam tiga tahun atau lebih), membuat petani enggan menyembeli hewan pembajak yang sangat penting ini. Kerbau juga menjadi hewan utama dalam pesta dan upacara. Walaupun sudah jarang ditemukan praktik penyembelihan kerbau dalam pesta, diduga praktek di Toraja merupakan kebudayaan khas Asia yang masih tersisa. Dibandingkan dengan babi atau ayam yang juga penting bagi orang Toraja, kerbau jauh lebih besar nilai sosialnya. Yang terutama adalah dalam usaha pertanian – sawah dan ladang – serta dalam ritual budaya – rambu tuka’ dan rambu solo’ – yang menjadi ciri masyarakat agraris Toraja. Baik dalam usaha pertanian maupun ritual budaya, kerbau menjadi alat transaksi yang sangat biasa. Selain sebagai alat transaksi dalam jual-beli tanah, kerbau jterutama menjadi hewan korban pada pesta rambu tuka’ maupun rambu solo’. Laga kerbau pada pesta-pesta kematian merupakan daya tarik dan hiburan masyarakat. Sedemikian pentingnya, di Toraja kerbau mendapat selain perlakuan istimewa, bahkan dengan rasa hormat tetapi juga beragam sebutan dan gelaran. Di Indonesia, populasi kerbau tersebar di sejumlah daerah. Namun, kerbau asal Toraja fisiknya jauh lebih besar, kekar dan gemuk di banding dengan kerbau di daerah lain di Indonesia. Yang terutama adalah warna yang membuatnya menjadi spesial. Jika di tempat lain di Asia maupun di Indonesia, kerbau umumnya digunakan sebagai binatang penghela dan memenuhi kebutuhan daging, di Toraja kerbau justru tidak digunakan sebagai penghela. Kerbau biasanya diistirahatkan dalam kandang di bawah kolong rumah. Karenanya rumah tradisional Toraja yang berbentuk rumah panggung dikitari tiang-tiang sehingga membentuk kurungan. Di luar rumah ada juga tempat khusus untuk tempat beristirahat kerbau. Biasanya ditempatkan di dekat padang pengembalaan, bala. Sebuah bala biasanya dikelilingi benteng yang ditanami bambu atau jenis tumbuhan lain yang berfungsi sebagai pagar. Di dekat bala penduduk membuat kebun. Kotoran menjadi pupuk yang sangat baik untuk tanaman kebun. Air susu atau pangngandu’ menjadi minuman nikmat yang disajikan pada waktu makan. Kerbau dipakai untuk membajak sawah atau menggemburkan tanah. Perlakuan terhadap kerrbau sangat berbeda dengan di Bali dan Jawa di mana kerbau berperan penting dalam mengolah tanah pertanian. Pengaruh kedekatan dengan kerbau yang berlangsung turun-temurun demikian dalam ,sehingga alam pikiran orang Toraja begitu didominasi kerbau. Langgengnya tradisi kedekatan dengan kerbau ini ditopang oleh mitos seputar asal usul kerbau yang demikian berpengaruh terhadap benak pemikiran dan sikap orang Toraja pada kerbau. Kerbau sungguh bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

II. Hasil dan Pembahasan

1. Menakar Nilai Kerbau

Walaupun secara umum kerbau mempunyai nilai sosial tinggi, namun orang Toraja mempunyai cara menilai kerbau mereka. Tinggi rendahnya nilai kerbau tergantung pada mutu kerbau menurut penilaian yang berlaku umum, dan nampaknya sudah dipakai turun temurun sejak jaman nenek moyang. Penilaian ini juga berlaku bagi para pedagang kerbau saat ini dalam menentukan harga. Secara umum, orang Toraja menilai kerbau dari tanduk, warna kulit dan bulu, dan postur, serta tanda-tanda di badan. Mutu kerbau dapat dilihat dalam cara orang Toraja sendiri mengelompokkan kerbau berdasar jenis yang mereka kenal. Salah satu bukti demikian pentingnya kerbau dalam kebudayaan orang Toraja adalah dengan adanya sejumlah kategori dari berbagai macam jenis kerbau.

2. Berdasarkan Tanduk

Tanduk kerbau menentukan nilainya. Namun, peran tanduk bagi kerbau jantan lebih penting dibandingkan pada kerbau betina. Biasanya ukuran dan bentuk tanduk kerbau betina tidak terlalu diperhitungkan. Tidaklah demikian dengan kerbau jantan. Tanduk kerbau menjadi alat dekoratif yang bermakna dalam masyarakat. Di rumah-rumah tongkonan tanduk kerbau disusun di depan rumah, sebagai simbol status seseorang atau tongkonan. Nilai satu kerbau muda ditentukan oleh pajang tanduknya. Semakin panjang maka semakin berharga. Harga otomatis akan turun bila terdapat cacat pada tanduknya, atau bentuknya tidak proporsional dengan badan kerbau. Ukuran ini dipakai dalam transaksi yang memakai kerbau. Umumnya, kerbau dipakai sebagai alat pembayaran dalam transaksi jual beli tanah sawah atau kebun, gadai dan dalam pesta kematian. Sebagai alat ukur, orang Toraja memakai ukuran anggota badan,( tangan).

3. Ukuran

1. sang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang ruas ujung jari tengah orang dewasa.

2. duang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang dua ruas jari tengah orang dewasa.

3. sang rakka’, artinya ukurannya sama dengan panjang satu jari tengah orang dewasa.

4. limbong pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang setengah telapak tangan orang dewasa.

5. sangkumabe’ artinya ukurannya sama dengan panjang telapak tangan orang dewasa.

6. sang lengo, artinya ukurannya sama dengan panjang ujung jari hingga pergelangan tangan orang dewasa.

7. sang pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah empat jari.

8. sang busukan ponto, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah setengah lengan tangan orang dewasa.

9. alla’ tarin, artinya ukurannya sama dengan panjang hingga di atas siku

10. inanna, artinya ukurannya melewati siku.

4. Bentuk

Selain ukurannya, bentuk tanduk juga mempunyai arti penting dalam memberi nilai pada kerbau. Orang Toraja membedakan bentuk tanduk sebagai berikut:

1. tanduk tarangga yaitu tanduk yang keluar dan membentuk setengah lingkaran. Jenis ini sangat umum di Toraja. Untuk kerbau jantan, jenis ini sangat kuat dalam adu kerbau.

2. tanduk pampang yaitu tanduk yang keluar melebar dan cenderung panjang. Tanduk jenis ini biasanya terbentuk dari kerbau balian. Kerbau yang buah pelernya sengaja dilepas untuk memperindah tanduk.

3. tanduk sikki’ yaitu tanduk yang arahnya hampir sama dengan tarangga namun cenderung merapat bahkan ujungnya nyaris bertemu.

4. tanduk sokko yaitu tanduk yang arahnya turun ke bawah dan hampir bertemu di bawah leher. Dengan warna tertentu nilainya menjadi sangat mahal.

5. Tekken Langi’ yakni tanduk yang mengarah secara berlawanan arah, satu ke bawah dan satu ke atas.

5. Berdasarkan Warna

Selain bentuk dan ukuran tanduk, kesempurnaan seekor kerbau ditentukan oleh warnanya. Warna juga menentukan nilai kerbau. Secara garis besar, masyarakat Toraja mengenal tiga kategori warna berikut variasinya: bonga, puduk, dan sambao’. Dari tiga kategori ini masih terdapat variasi warna. Yang pertama mempunyai nilai relatif mahal, menyusul kedua dan ketiga.

(1) Bonga

Bonga adalah kerbau yang berwarna kombinasi hitam dan putih, diangap paling cantik, harganya puluhan sampai ratusan juta. Kerbau juga dapat ditemukan di masyarakat TO Bada, Sulawesi Tengah, Sumba, Flores, Roti dan Timor (Nooy-Palm, 1979). Namun secara proporsional sangat jarang. Di Toraja sendiri jenis ini sangat jarang. Kelahiran kerbau belang bagi pemiliknya merupakan suatu berkah. Upaya untuk perkawinan silang pun jarang sekali berhasil. Jadi kelahiran bonga sangat kebetulan. Satu kerbau bonga biasanya dinilai antara 10 hingga 20 kerbau hitam. Bonga memiliki beberapa variasi dari segi kombinasi warna dan tanda-tandanya.

a. Bonga saleko atau bonga doti adalah jenis yang warna hitam dan putih hampir seimbang, dan ditandai dengan taburan bintik-bintik di sekujur tubuhnya. Harga bonga Saleko bisa mencapai ratusan juta. Menurut Yunus, Harga pasaran sekarang ini sekitar 350 juta.

b. Bonga sanga’daran adalah jenis yang di bagian mulutnya dinominasi warna hitam

c. Bonga Randan dali’ adalah jenis bonga yang alis matanya berwarna hitam.

d. Bonga Takinan Gayang, adalah jenis yang di punggungnya ada warna hitam menyerupai parang panjang.

e. Bonga ulu adalah jenis yang warna putih hanya di kepalanya, sedang bagian leher dan badan berwarna hitam.

f. Bonga lotong boko’ adalah jenis bonga yang terdapat warna hitam di punggung

g. Bonga bulan, adalah jenis bonga yang seluruh badannya berwana putih. Jenis ini lebih murah harganya dibanding pudu’ yang mencapai 20 juta rupiah.

h. Bonga sori, adalah jenis bonga yang warna putih hanya dikepala bagian mata. Jenis ini harganya jauh lebih murah lagi.

(2) Pudu’

Pudu’ umumnya berbadan kekar dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat kuat dalam bertarung. Pada acara adu kerbau pada pesta kematian, kerbau puduk umumnya tampil sebagai petarung yang kuat. Harganya biasanya setengah dari harga bonga.

a. Balian adalah kerbau hitam yang dikeluarkan buah pelernya untuk membentuk tanduk yang modelnya proporsional serta semakin panjang. Makin baik dan panjang tanduknya semakin mahal. Balian yang bagus bisa dihargai 50 jutaan rupiah

b. Pudu’ adalah kerbau yang sangat hitam, dan paling banyak populasinya di Toraja. Harganya bisa mencapai setengah harga saleko.

c. Todik adalah kerbau hitam dengan bintang putih di atas kepalanya

(3) Sambao’

Jenis ini adalah yang paling kurang nilainya. Warnanya abu-abu bahkan kecoklatan hampir mendekati warna sapi. Sambao’ adalah kerbau yang warnanya abu-abu dianggap paling murah nilainya. Selain itu dalam transaksi yang berhubungan dengan kerbau, masyarakat Toraja mengenal ukuran-ukuran.

a. misa’ tedong artinya satu ekor kerbau utuh

b. sang sese tedong atau seperdua kerbau

c. sang tepo tedong atau seperempat kerbau

d. sang leso tedong atau seperenam kerbau

e. sang duluk tedong atau spertigapuluh dua kerbau

f. sang katatae tedong atau seperenampuluh empat kerbau

6. Pasar Bolu

Di Toraja ada dua pasar ternak, yakni pasar Makale dan pasar Bolu. Dahulu kala, pasar Bolu yang berada di Kecamatan Rantepao, lebih dikenal dengan nama pasar Kalambe’. Walaupun tidak identik lagi sebagai pasar kerbau, di salah satu bagian pasar, disediakan pasar ternak, babi dan kerbau. Pasar hewan di Makale hanya untuk babi, jadilah pasar Bolu sebagai satu-satunya pasar resmi untuk kerbau di Kabupaten Toraja. Kini pasar Bolu tidak hanya menampung kerbau dari Toraja. Yunus, seorang pedagang kerbau yang ditemui di Pasar Bolu menceritakan pada hari pasar, kerbau asal Toraja tidak lagi mendominasi. Kerbau yang ada didatangkan dari luar Toraja antara lain dari Endrekang, Pangkep, Makasar, Mamasa, Kendari, Palopo, dan Kupang. Kerbau asal Kupang, yang jumlahnya paling banyak, khusus dikapalkan dari Kupang ke Takalar, selanjutnya diangkut dengan truk ke Toraja. Para pedagang kerbau tinggal membeli di tempat. Namun demikian, Yunus dan pedagang-pedagang kerbau lainnya, masih sering ke kampung-kampung untuk membeli kerbau. Bagiamana pun, kerbau Toraja lebih khas, namun semakin menipis untuk memenuhi kebutuhan pesta yang berlangsung dari bulan Juni hingga Desember tiap tahun. Kerbau Toraja lebih besar dan lebih gemuk di banding kerbau lain yang ditemukan di wilayah lain di Indonesia, khususnya warna yang membuat kerbau itu menjadi sangat spesial. Di pasar Bolu, para pedagang kerbau ”memarkir” kerbau dagangan di lots-lots yang dibangun oleh Pemda setempat. Yunus sendiri masih harus memelihara kerbau dari luar Toraja untuk menambah nilai jualnya. Yunus mempekerjakan beberapa pegawai untuk memelihara kerbau, memandikan, memberi makan, membawanya ke sungai untuk direndam, diikat dengan tali yang disangkutkan pada hidung kerbau yang dilubangi supaya badan kerbau terbentuk dan kuat. Umumnya yang diperlakukan demikian adalah kerbau jantan. Kerbau-kerbau itu direndam selama berjam-jam di sungai sebelum diberi makan dari rumput yang masih segar. Warnanya akan lebih menonjol, ada garis tegas antar warna hitam atau putih. Selain itu, dengan direndam tanduknya akan terbentuk dengan bagus. Warna, bentuk dan ukuran tanduk memang sangat menentukan nilai kerbau jantan.

III. Kesimpulan

Kerbau adalah hewan jinak yang dikenal kuat menghela beban, nyaris setara kekuatan gajah. Di banyak tempat hewan ini memang lebih dikenal sebagai hewan yang dekat dengan manusia, membantu membajak sawah dan menjadi hewan pedaging. Namun di Toraja, kerbau adalah hewan paling istimewa. Keistimewaan itu bukanlah karena dapat menjadi penghela yang kuat, atau karena dagingnya yang enak. Lebih dari itu, kerbau menjadi alat transaksi dalam perkawinan, dalam pewarisan, dalam pesta kematian. Kepemilikan kerbau menjadi salah satu simbol status sosial. Wajarlah bila di tangan Orang Toraja, kerbau menjadi sangat spesial, dengan penamaan, pengelompokan serta pemberian nilai yang tidak mudah.

*Pusat Kajian Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin

8 responses to “Kerbau Dalam Tradisi Masyarakat Toraja

  1. Apakah suku toraja mempunyai keyakinan bahwa bumi dijungjung oleh kerbau. Mitologi binatang ini sebenarnya bagaimana dalam suku Toraja? Apakah dalam setiap ritus pemotongan kerbau selalu disertai dengan mantra?

    • Masyarakat Toraja khususnya penganut agama adat (penganutnya sdh hampir habis) yang dikenal dengan istilah “aluk todolo” memiliki keyakinan bahwa kerbau adalah kendaraan yang nantinya dapat membawa tuannya / pemiliknya ke arwana / surga (Puya)setelah kematian. Oleh karena itulah kerbau memiliki tempat yang istimewa dalam adat masyarakat Toraja. Namun seiring dengan kemajuan jaman, keyakinan itu sedikit demi sedikit mulai mengalami pergeseran makna dan nilai, dimana sekarang ini acara adat yang mengorbankan puluhan kerbau untuk acara kematian (rambu solo’), lebih cenderung menjadi ajang pertaruhan gengsi, yang sudah melenceng jauh dari tujuan awal diadakannya adat tersebut. Tentang mantra, tidak selamanya pemotongan kerbau disertai mantra, seperti penjelasan saya di atas bahwa adat itu sudah mengalami pergeseran nilai. Memang pada awalnya seperti itu, karena menurut kepercayaan “aluk todolo” kerbau itu adalah persembahan kepada Tuhan yang dalam kepercayaan tersebut dikenal dengan istilah ‘puang titanan tallu, tirande batu lalikan”. Saya pribadi sebagai putra asli Toraja, tidak sepenuhnya setuju dengan acara adat tersebut karena disamping sudah mengalami pergeseran nilai, menurut saya merupakan pemborosan dan lebih menjadi ajang pertaruhan gengsi. Tapi saya punya keyakinan bahwa adat tersebut akan mengalami penyesuaian diri secara alami dan tidak bisa dipaksakan untuk diubah secara frontal.

    • Hukum Pidana adat suku Toraja itu tidak ada, suku Toraja sama seperti suku lainnya di Indonesia tetap tunduk pada hukum pidana tertulis yang berlaku di negara kita. Namun demikian, dalam masyarakat adat suku Toraja juga berlaku hukum adat tidak tertulis yang hidup (living law) yang diakui dan ditaati oleh masyarakat Toraja. Bahkan masyarakat suku Toraja memiliki tingkat ketaatan yang sangat tingggi terhadap hukum adat tersebut. Keberlakukannya mengikat dan dipatuhi dengan kesadaran tinggi oleh masyarakat suku Toraja. Dalam legenda masyarakat Toraja dikenal adanya aluk sanda pitunna, aluk sanda karua, dan aluk sanda saratu’ yang mengandung kaidah-kaidah tentang hubungan antar manusia dan bagaimana menyelesaikan konflik yang muncul dalam masyarakat. Keputusan atau kesepakatan yang diambil oleh para pihak yang berkonflik bersifat final dan mengikat, dan masing-masing pihak dengan penuh kesadaran sendiri tunduk dan sama-sama menjaga penyelesaian secara adat tersebut. Meskipun belakangan hukum adat tersebut sudah mulai berkurang, namun tetap diakui dan diterima sebagai salah satu hukum yang mengikat seluruh masyarakat Toraja.

  2. bagi yang berminat memiliki kerbau seharga Maksimal 1 M untuk upacara adat,tetapi mempunyai kemampuan financial terbatas.Kami siap berbagi solusinya.karena sebaik baiknya manusia yaitu yang bisa bermanfaat bagi manusia yang lainnya.terima kasih pak Malto atas sharing ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s