Mengusir Macan Tua

Budiman Sudjatmiko

Hampir setiap bangsa pernah melakoni zaman yang ”salah”. Di antara sebab dari kesalahan itu: pemimpinnya berkuasa terlalu lama. Dan bangsa yang ia pimpin tak siap untuk kepemimpinan baru, terlepas apakah mereka punya tradisi filsafat dan sains yang tinggi atau tidak.

Terlepas dari kebaikan dan prestasi yang ditorehkan para pemimpin yang berkuasa sangat lama ini, sejarah selalu menyediakan cara yang khas menjatuhkan ”hukuman” serupa dari zaman ke zaman. Untuk bangsa atau komunitas yang gagap regenerasi, sejarah ”menghukum” komunitas itu dengan proses transisi yang keras, berlarut-larut, dan sering diwarnai polarisasi—entah bipolar atau multipolar—yang tajam saat akhirnya regenerasi datang. Tidakkah, sebagaimana evolusi, regenerasi juga hukum besi alam? Indonesia tak dikecualikan dari hukum ini, seunik apa pun klaim kita tentang Indonesia.

Bukan untuk rakyat

Akibat regenerasi yang memang harus tiba, Indonesia dihadapkan pada dua pilih- an. Pertama, Indonesia harus mengambil pola kepemimpinan lain yang kuat untuk menyingkirkan warisan dari pemimpin la- ma. Inilah yang terjadi pada kepemimpin- an Presiden Soeharto sejak 1966 sampai 1998, yang secara berdarah-darah membersihkan warisan politik Bung Karno.

Kedua, melahirkan transisi berlarut-larut ketika sistem terbuka yang coba dila- hirkan tak ditopang institusi politik yang berurat berakar.

Ihwal ketidakberakaran ini karena sekian lama institusi-institusi sengaja dilumpuhkan. Hanya dengan cara ini ia memberi keleluasaan penguasa otoriter berkuasa lama dan membangun monumen personal untuk dirinya. Ketakberakaran inilah yang terjadi di sini sejak 1998. Ketika kita menyusuri jalan setapak demokrasi sejak 1998, kepemimpinan yang lahir mengalami gegar budaya menghadapi kompleksitas Indonesia di depan mata. Sebuah kompleksitas yang sekian lama ”didisiplinkan” dengan tongkat komando dan lars.

Kompleksitas yang menyeruak ini melibatkan berlapis-lapis aspirasi ekonomi, kultural, politik, psikologis. Para pemangku beragam kepentingan ini pun bisa berasal dari kalangan rakyat kebanyakan maupun jejaring kepentingan antar-elite.

Tak mengherankan jika pemimpin yang lahir di era Reformasi menghabiskan waktu lebih banyak mencari titik-titik keseimbangan baru dalam suasana terhuyung-huyung. Titik keseimbangan baru ini harus dicari dalam rupa kompromi di antara kekuatan politik yang tunggang langgang karena tongkat komando pendisiplin mereka patah pada 1998.

Mereka inilah yang sekian lama disingkirkan kekuasaan diktator Orde Baru yang berkuasa lama secara personal. Mereka terdiri dari pebisnis nirkeluarga Cendana, keluarga politik historis penantang penguasa otoriter Orba dan pemimpin kultural.

Keadaan itu diperparah dengan kenyataan bahwa mayoritas pemimpin politik dari kelompok yang dominan sekarang adalah juga generasi lama yang di era ke- diktatoran Orba tak dapat berkuasa di republik ini. Mereka hanya jadi pelengkap kekuasaan otoriter itu, loyalis Orba yang sesungguhnya menginginkan kekuasaan sekian lama, tetapi tak cukup punya sikap memperbaiki keadaan di era mereka.

Kekuasaan otoriter Orba yang berlangsung lama telah mengambil jatah waktu pemimpin potensial di era itu. Mereka kemudian mengambil jalan kompromi karena tak satu pun kekuatan politik yang bisa berdiri sendiri (juga tak cukup percaya diri) tanpa topangan kekuatan lain yang kurang lebih sama magnitudonya.

Karena kebutuhan saling menopang di antara kekuatan ini lebih untuk kebutuhan sintas, kompromi yang dicapai pun sering tak berlandaskan kesamaan visi dan platform politik. Banyak koalisi terbentuk lebih karena kebutuhan hadir di pentas politik. Tak ayal lagi, yang paling dikorbankan dari koalisi untuk kesintasan kelompok pada akhirnya adalah warga negara dan generasi muda.

Pengusir macan

Generasi pemimpin muda akhirnya harus menanggung beban kesalahan pemimpin tua masa kini yang dulunya tak berani menggugat secara serius kekuasaan otoriter yang berlangsung lama. Saya tak punya cara lain untuk menggambarkan situasi ini kecuali dengan sketsa fenomena leher botol di pintu masuk sebuah stadion karena ada macan tua berjaga di sana.

Generasi tua menumpuk di mulut pintu karena tak berani melewatinya pada jam sebelumnya: seekor macan tua di pintu itu sekian lama! Ketika sebuah angkatan yang lebih muda mengumpulkan keberanian menyeruak ke muka mengusir macan itu dan berhasil, maka rombongan yang tak berani mengusir macan tadi kemudian melompat ke depan. Mereka meminta generasi pengusir macan kembali keluar stadion karena mau masuk dan menduduki kursi VIP di dalamnya.

Karena tidak sedikit, secara bergiliran mereka menikmati kursi VIP yang jumlahnya sedikit itu dalam waktu tak terlalu lama. Tak seorang pun puas karenanya. Terjadilah proses daur ulang penjatahan pendudukan kursi VIP ini, sembari terus mengingkari fakta bahwa masih ada rombongan lain yang harus memasuki pintu stadion. Merekalah rombongan yang sesungguhnya telah berani mengusir macan tua sang penjaga pintu!

Moral dari kisah ini: kesalahan sebuah bangsa karena telah membiarkan pemimpin otoriter berkuasa sekian lama akan berakibat pada kesalahan lain yang tak kalah fatalnya. Kesalahan susulan ini adalah mandeknya proses regenerasi politik, yang pada gilirannya berakibat pada menjauhnya jarak antarpelaku tiap tahap reformasi, mulai dari membabat hutan otoriterisme, menanam bibit demokrasi, menuai serta menikmati kekuasaan yang lahir dari sana. Akibatnya, transisi demokrasi bertele-tele, sementara rakyat mulai menghitung hari kematian atau kebangkitannya.

Budiman Sudjatmiko Pembina Utama Parade Nusantara (Persatuan Rakyat Desa Nusantara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s