Sisa Harapan Jokowi atas Ahok dan Mimpi Makar Kubu Biru-Hijau

Sisa Harapan Jokowi atas Ahok dan Mimpi Makar Kubu Biru-Hijau 

25 November 2016 

Pertahanan Jokowi nyaris ambruk jika saja dia bersikukuh membela Ahok. Tekanan hebat hasil kolaborasi kubu biru-hijau telah membuat Jokowi dan orang-orang di Ring 1 istana mengubah strategi. Ahok terpaksa dikurbankan dan menjadi tumbal dari panasnya suhu politik jegal. Taktiknya jelas. Mundur selangkah, buka sisi pertahanan, lokalisir ancaman sambil mengidentifikasi kekuatan musuh.

Blunder Ahok yang menyerempet Surat Al-Maidah ayat 51, jelas telah membuat kubu hijau mendapat angin. Kubu hijau adalah mereka yang menamakan diri FPI, HTI, HMI, kaum islam konservatif, militan dan fundamentalis. Mereka ini mendapat dukungan dari MUI ketika berhadapan dengan Ahok. Seakan mendapat musuh bersama, kubu hijau bergandeng tangan untuk menyerang bersama. Saat kubu hijau bereaksi, kubu biru (kubu partai biru), langsung nimbrung. Kesempatan memancing di air keruh sangat menggiurkan kubu biru. Terbentuklah kekuatan baru yang membahana seperti terlihat pada demo 4 November. Arah demo itu terang bukan hanya saja tertuju kepada Ahok, tetapi juga kepada Jokowi. Tembakan jarak pendek mengarah ke Ahok, tembakan jarak jauh mengarah ke Jokowi. Mimpinya jelas: menumbangkan Ahok sekaligus Jokowi. Lalu republik ini kemudian digenggam oleh kubu biru-hijau, untuk kemudian diubah menjadi negara mafia berbaju agama. 

Jelas situasi itu membuat Jokowi dipaksa melakukan konsolidasi kekuatan. Selama dua minggu, ia bolak-balik ke sana-kemari. Energi yang seharusnya digunakan untuk kerja, terpaksa dihabiskan menghadapi ambisi makar lawan-lawannya. Tidak cukup sampai di situ, Ahok pun dikorbankan menjadi tersangka. Ahok kemudian dibiarkan berjuang sendiri, membebaskan dirinya sendiri dan bertarung sendiri. Jokowi cuci tangan. Ahok tersangka. 

Sematan tersangka pada diri Ahok jelas tidak mudah dipulihkan. Butuh perjuangan all-out dari pihak Ahok untuk keluar dari predikat itu. Namun di sinilah Jokowi mempunyai secercah harapan. Sebagai orang yang paling klop dengannya di DKI, Jokowi jelas menaruh sisa harapan pada Ahok. Apa saja sisa harapan Jokowi itu? 

Pertama, Jokowi menaruh harapan pada masyarakat DKI Jakarta. Saat demo 4 November, masyarakat Jakarta sama sekali tidak berbondong-bondong turun ke jalan. Demikian juga pada saat ada aksi parade Bhinneka Tunggal Ika, 19 November. Masyarakat Jakarta tak mudah dipancing turun ke jalan. Artinya apa? Masyarakat Jakarta adalah orang-orang yang tidak mudah terprovokasi. Mereka adalah kelas masyakarat terdidik yang sudah mempunyai penilaian dan  pilihan. Dari hasil satu-dua survei diketahui bahwa elektabilitas Ahok-Djarot anjilok. Apakah itu hanya sementara? Hasil survei lainnya menyebutkan bahwa masyarakat Jakarta puas atas hasil kinerja Ahok. Menariknya, walaupun puas atas kinerja Ahok, namun sebagian menyebutkan bahwa tidak akan memilihnya pada Pilkada mendatang. Jelas ada sisa harapan bagi Ahok untuk menarik kembali para pemilihnya. Masih ada waktu dua bulan bagi Ahok untuk memulihkan kredibilitasnya sekaligus  menuntaskan kasus hukumnya. Jokowi jelas menaruh harapan pada nalar masyarakat Jakarta. Jika ternyata publik Jakarta masih menginginkan Ahok di DKI, maka mereka akan berbondong-bondong memilihnya pada Pilkada mendatang. Bisa jadi Ahok bisa menang satu putaran. Nah itulah harapannya. Jika Ahok menang satu putaran, maka hal itu akan membungkam lawan-lawan Ahok selama ini. Sinyal untuk itu terlihat di rumah Lembang. Dukungan deras dari berbagai pihak masih terus mengalir kepada Ahok. 

Kedua, Jokowi berharap agar para penegak hukum berlaku seadil-adilnya bagi Ahok. Apakah dapat dibuktikan bahwa Ahok telah menista agama atau hanya tuduhan yang dialamatkan kepadanya? Jokowi jelas mengharapkan agar Ahok dapat bertarung fair di pengadilan dan mampu membuktikan dirinya tidak bersalah atas tuduhan penistaan agama itu. Dengan demikian tanpa intervensi Jokowi, Ahok bebas dari segala tuduhan. Itulah sisa harapan Jokowi yang kedua. Ia mengharapkan Ahok mampu membebaskan dirinya lewat pertarungan di pengadilan. 

Ketiga, Jokowi mengharapkan agar skenarionya bisa berjalan lancar. Tadinya publik berharap agar Jokowi siap babak belur menyelamatkan Ahok. Tetapi Jokowi punya strategi lain. Dia rupanya menghindari gaduh dengan jalan memutar. Pada kasus kegaduhan yang ditimbulkan oleh Budi Gunawan, Budi Waseso, Rizal Ramli, Ignasius Jonan, Archandra Tahar misalnya, Jokowi memilih mundur selangkah baru menyerang dua langkah. Nah ini strategi jitu nan cantik. Dalam strateginya, Jokowi lebih memilih mengorbankan Ahok untuk sementara. Bersamaan dengan itu, ia pelan-pelan mematikan lawannya. Tersangkanya Buni Yani adalah langkah awal.  Pemanggilan Amin Rais, Habi Rizieg, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Munarman dan seterusnya adalah langkah lanjutan yang harus dilakukan pelan-pelan. Setelah melihat perkembangan demo 2 Desember yang dipastikan menurun gaungnya, Jokowi mulai membidik Cikeas, membubarkan FPI dan ormas-ormas sangar lainnya. Ketika lawan-lawannya mulai meredup dan mati pelan-pelan, barulah Jokowi menarik kembali Ahok untuk ikut membantunya mewujudkan revolusi mentalnya. 

Nah, itulah skenarionya sekaligus sisa harapannya. Apakah itu mustahil? Dengan dukungan Polri dan militer yang masih mencintai NKRI, bukanlah hal yang sulit bagi Jokowi untuk membidik para lawannya. Benar bahwa tidak mudah menakhlukkan lawannya berlatar belakang militer. Namun karena Jokowi berada di garis yang benar, maka selalu saja ada cara untuk menangkisnya dan menyerang balik musuhnya. 

Pertanyaannya adalah apakah mimpi makar kubu biru-hijau kali ini terwujud? Publik yang masih punya nalar, mimpi makar dipastikan gagal. Alasannya: 

Pertama, dalam sejarah republik ini, makar dengan tujuan menggantikan Pancasila tidak pernah berhasil. Pancasila selalu sakti. Padahal di awal-awal kemerdekaan kekuatan pemerintah yang baru terbentuk tidaklah sekuat sekarang. Namun saat itu pemerintah selalu berhasil menumpas berbagai pemberontakan di berbagai daerah dengan gemilang. Bila dibandikan dengan saat sekarang, maka kekuatan pemerintah jauh lebih kuat menghadapi kelompok-kelompok perongrong Pancasila. NKRI masih pilihan terbaik di republik ini. 

Kedua, untuk sementara, dengan safari selama dua minggu, Jokowi berhasil mengarahkan nalar publik bahwa dalang demo 4 November adalah pemilik lebaran kuda. Jokowi telah berhasil melokalisir lawan di seputar lebaran kuda plus pada kubu hijau yang menggandengnya. Artinya publik sekarang amat mudah menyoroti segala gerak-gerik si pemilik lebaran kuda dan kubu hijau yang berencana makar. 

Ketiga, dari dua kali pelengseran Presiden baik Soekarno maupun Soeharto, selalu melibatkan mahasiswa. Namun kali ini terlihat para mahasiswa masih terlihat waras dan tak ikut-ikutan demo. Pun ketika Gus Dur dilengserkan Amin Rais, sebagian besar parlemen mampu bersatu menyerang Gus Dur. Sekarang? Justru sebagian besar anggota parlemen masih mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Hanya Fahri Hamzah yang terus mencari panggung dan menunggang kekuatan ormas sangar pasca dia dipecat dari PKS. 

Kiranya sudah cukup tiga alasan di atas untuk menyatakan bahwa rencana makar kubu biru-hijau masih mimpi di siang bolong. Rencana demo 2 Desember kubu biru-hijau yang mencoba dengan menggandeng buruh, sudah bisa dibaca dengan sangat baik oleh Ring 1 istana.  Karena itu rakyat pro-NKRI, kubu merah-putih, plus militer dan Polri semakin siap unjuk kekuatan untuk menangkisnya. Sambil menunggu sisa harapan Jokowi mekar, mari kita tertawai dulu aksi rush money yang gagal total. 

Salam Kompasiana, 

Asaaro Lahagu

Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/lahagu/sisa-harapan-jokowi-atas-ahok-dan-mimpi-makar-kubu-biru-hijau_5838283a81afbd1813acd269